Senin, 07 Maret 2011

PERGURUAN PENCAK SILAT BANDRONG BANTEN - PADEPOKAN BANDRONG RENGGONG AMPEL

Pengembangan Seni Budaya Tradisional dengan Manajemen Modern
Sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan aliran Pencak Silat Bandrong, Padepokan Bandrong Renggong Ampel memulai langkah modernisasi untuk pengembangan dan pelestarian aliran Pencak Silat Bandrong dengan membentuk organisasi formal.

Secara historis seperti yang dituturkan oleh KH Mansyur Muhyidin sesepuh dan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Perguruan Pencak Silat Bandrong, pada jaman Kesultanan Banten terdapat tiga aspek seni dan budaya yang dikembangkan pada saat itu. Pertama, Paku Banten, bersifat atraksi dan pertunjukan kebolehan untuk menyambut tamu-tamu agung atau tamu kehormatan Kesultanan Banten seperti Debus, Gracle, dan Terbang Gede. Kedua, Kendang Istri Tari Kolot, suatu pertunjukan seni tari yang banyak diajarkan kepada kaum wanita yang diciptakan khusus sebagai taktik mengalihkan perhatian musuh terutama pada saat penjajahan Belanda. Ketiga, Pencak Silat Bandrong, dikembangkan di jajaran pasukan khusus kerajaan untuk kepentingan bela negara dan melawan musuh. Seperti yang diterangkan pada tulisan pertama, aliran Bandrong ini berkembang seiring dengan masuknya khasanah seni dan aliran silat kwitang dan juga penyerapan aliran dari aliran pencak silat lain. Sehingga memunculkan berbagai padepokan yang masing-masing mempunyai kekhususan dan pengembangan jurus-jurus tertentu yang membedakan satu sama lain. Tapi padepokan-padepokan ini tetap dalam ajaran inti aliran Bandrong.

Latar Belakang Pendirian
Pengurus Harian
Padepokan Bandrong pada saat ini berjumlah lebih dari 30 padepokan yang banyak tersebar di daerah Serang, Cilegon, dan Lampung. Padepokan Bandrong Renggong Ampel adalah salah satu padepokan Bandrong yang bertempat di Kampung Ampel Desa Puloampel Kec. Puloampel Kab.Serang. Padepokan Renggong Ampel secara formal dibentuk dan berdiri pada tanggal 13 Oktober 2010 (5 Dzul Qo’idah 1431 H) dengan guru besarnya Abah Ali Rahim Kasim. Abah Ali Rahim adalah salah satu murid langsung dari Yai Samsudin yang merupakan pewaris aliran Bandrong dari Ki Marip. Dengan dikomandoi oleh salah satu mudridnya yaitu Ahmad Faroji Jauhari, S.Ag. M.Pd, pembentukan padepokan Bandrong Renggong Ampel ini ahirnya terwujud. “Transformasi dari tradisional ke arah modern itu sangat perlu. Karena dengan perubahan jaman ini kita membutuhkan manajemen yang baik agar seni dan budaya Bandrong tidak punah. Oleh karenanya kita membuat wadah formal dari kegiatan pengajaran aliran Bandrong di kampung Ampel ini yang sudah berjalan lama tapi tidak ter-manage dengan baik menjadi lebih terorganisir dan berkembang lebih baik lagi,” ujar Faroji yang juga berprofesi sebagai dosen di IAIN Serang. “ibarat pisau yang berkualitas baik, apabila tidak diasah dan dijaga dengan baik hanya akan tinggal cerita saja dikemudian hari,” tambah Faroji yang diserahi tanggung jawab di kepengurusan harian padepokan sebagai Sekertaris Umum. Nama Renggong Ampel diambil dari nama salah satu guru besar Bandrong dan tempat berdirinya padepokan ini. Ki Renggong adalah salah seorang guru besar Bandrong pada masa sebelum Ki Marip (seorang guru besar yang mengembangkan Bandrong di tahun 1920-an). Sedangkan Ampel adalah Kampung Ampel tempat berdirinya padepokan ini.
Abah Ali Rahim
Atas dasar kecintaan dan kesadaran akan pelestarian budaya dan seni Bandrong yang sudah semakin ditinggalkan oleh generasi mudanya, Padeopokan Bandrong Renggong Ampel memulai langkah strategis dengan membentuk organisasi formal yang sudah didaftarkan ke Dewan Pimpinan Pusat Perguruan Pencak Silat Bandrong selaku wadah aliran silat Bandrong. “Supaya tidak putus link nya dengan generasi muda, maka kami membentuk organisasi formal agar lebih tertata lebih baik secara kegiatan dan juga pengelolaanya. Siapa bertanggung jawab apa sudah dipetakan dengan baik,” jelas Mad Saleh Kesidin S.Pd selaku Ketua Umum pengurus harian. “kalo dulu aliran Bandrong ini diajarkan di dalam rumah. Bisa di ruang tengah, bisa juga di dapur. Jadi ada kesan malu dibilang pamer kalo kita latihan kelihatan banyak orang. Tapi sekarang stigma itu kita hilangkan karena justru dengan memamerkan keberadaan kami akan baik untuk regenerasi dan menarik para generasi muda mempelajari aliran Bandrong ini,” ungkap ketua harian yang juga berprofesi sebagai guru ini. Padepokan ini dalam struktur organisasinya terdapat 4 bidang yaitu, Pelatihan dan Pengkaderan, Kesenian Kendang, Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan Seni dan Atraksi. Semua kepengurusan harian dan kepala bidang merupakan murid dari aliran Bandrong. “Kita ingin agar kepengurusan dan ajaran Bandrong selaras sejalan. Orang-orang yang duduk dalam kepengurusan organisasi harus mengerti dan menjiwai aliran Bandrong. Jadi mereka selaku pengurus juga murid dari Abah Ali Rahim,” ungkap Faroji lebih jauh menerangkan mengenai kepengurusan.

Jurus Bandrong
Latihan di padepokan Renggong Ampel dilakukan malam hari yaitu setiap selasa malam dan sabtu malam. Dimulai dari sekitar jam 8 sampai jam 10 malam. Ada sekitar 32 murid yang tercatat dalam daftar padepokan baik yang aktif maupun non aktif. Regenerasi dan pengembangan padepokan ini sudah berjalan baik. Terbukti sebagian besar murid yang mengikuti latihan adalah usia sekolah. Dari tingkat SD sampai dengan SMA. Para murid pun sudah memakai seragam Pencak Silat warna hitam dengan garis merah dan sabuk merah. Seragam ini menjadi hal cukup baru di padepokan Bandrong. Karena sebelumnya mereka tidak mempunyai seragam khusus padepokan. Ini disebabkan karena dalam sejarah pengembangan aliran Bandrong ini bersifat tertutup dan pilihan. Seorang guru hanya mengajarkan pada orang-orang tertentu saja yang dianggap mampu dan layak untuk diturunkan ilmu Bandrong. Oleh karena sifatnya yang ekskulsif dan tertutup tidak banyak orang yang mempelajari dan menguasai aliran Bandrong ini. Tapi dengan diterapkan  inklusifitas, aliran Bandrong dapat lebih berkembang dan dipelajari banyak orang.
Pada jaman dahulu tidak mudah bagi seorang guru menerima seseorang untuk dijadikan sebagai murid. Karena seorang guru benar-benar selektif dalam memilih murid untuk dapat menerima seluruh ilmu yang akan diturunkan kepadanya. Bagi seorang murid selain harus mempunyai niat yang mantap juga mampu menjalankan amanat yang diberikan guru kepadanya. Sekarang persyaratan untuk menjadi murid aliran bandrong tidak seketat dulu. Tetapi beberapa hal dasar harus tetap dijalankan sang murid. Seperti menjaga dirinya agar tidak secara semena-mena menggunakan keahlian Bandrongnya. Karena selain wajib  menjaga amar ma’ruf nahi munkar juga akibat buruk pada lawan yang ditimbulkan dari keampuhan jurus Bandrong.
Jurus Bandrong di Padepokan Renggong Ampel terdiri dari 6 jurus pokok. Masing-masing jurus pokok ini mempunyai 4 jenis gerakan. Gerakan masing-masing jurus ini terdiri dari gerakan polos, gerakan totog, gerakan seliwe, dan gerakan kombinasi. Jurus-jurus pada aliran Bandrong mempunyai ciri khas gerak yaitu gerakan tangan dan kaki sangat cepat. Posisi tangan yang terbuka dan teknik bawah yang cepat dapat digunakan untuk menjatuhkan lawan dengan cara mengambil kaki lawan dan mengangkatnya ke atas dengan posisi kepala lawan di bawah kemudian dapat dilemparkan dengan jarak yang sangat jauh. “Jurus Bandrong ini adalah jurus yang dikatakan bertahan sekaligus menyerang. Selain melindungi pertahanan juga gerakannya sebagai serangan kepada lawan. Makanya posisi tangan terlihat terbuka dapat memancing lawan untuk melakukan serangan,” ungkap Faroji dalam memperkenalkan jurus Bandrong Renggong Ampel. Dalam istilah KH Mansyur, Cuma ada dua pilihan yang ditawarkan kepada lawan ketika berhadapan dengan pesilat Bandrong, “ingin jatuh terlentang apa jatuh telungkup?” canda beliau sembari memperagakan sedikit gerakan Bandrongnya. Selain gerakan cepat dalam menjatuhkan lawan, jurus Bandrong yang membahayakan lawan adalah pukulan datar yang mengarah rusuk dan ulu hati. Terbukti dalam pertandingan Pencak Silat yang diikuti oleh wakil perguruan Bandrong pada tahun 1984, lawan bertandingnya sampai ada yang meninggal dunia. Salah satu alasan inilah yang membuat wakil dari aliran Bandrong tidak mengikuti lagi berbagai pertandingan pencak silat yang diselenggarakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) di semua ajang pertandingan.

Penutup
                Bandrong sebagai warisan seni dan budaya Pencak Silat asli Banten tertua seyogyanya mendapat perhatian lebih dari para pewaris aliran ini. Transformasi pengelolaan dari metode tradisional ke arah yang lebih modern mutlak diperlukan seiring dengan perkembangan jaman. Salah satu sebab ditinggalkannya seni dan budaya pencak silat asli Banten karena manajemen perguruan silat yang masih bersifat seadanya. Masih jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan perguruan pencak silat dari daerah lain yang sudah berkembang di tingkat nasional dan bahkan berkembang di banyak negara. Mereka juga sudah ‘berbicara’ banyak di level nasional maupun internasional dalam kejuaran silat dan seni. Perlu dipikirkan lagi bagi para pewaris aliran Bandrong ini bagaimana caranya bisa menarik minat para generasi muda khususnya anak-anak dan remaja usia sekolah untuk tertarik dan mempelajarinya. Jangan sampai terputus link dengan generasi mudanya hanya karena salah pengelolaan.
                Kesadaran akan perlunya manajemen yang baik diaplikasikan oleh para murid dan kasepuhan Bandrong di Desa Ampel dengan membentuk kepegurusan formal dengan nama Padepokan Bandrong Renggong Ampel. Dengan adanya wadah formal dapat mengembangkan aliran Bandrong ini ke arah yang lebih baik. Pengelolaan yang terarah dan terorganisir dapat membuka peluang kepada generasi muda untuk mengetahui, memepelajari, dan mencintai budaya asli daerahnya sendiri. Diharapkan untuk padepokan Bandrong lain dapat juga mengikuti langkah yang telah dijalankan oleh Padepokan Renggong Ampel dan berlomba menjadi yang terbaik dalam pengelolaan dan regenerasinya.
                Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek olah raga dalam pengembangan dan penyebaran pencak silat sangat efektif. Unsur-unsur prestasi dan apresiasi diperlukan untuk mendorong generasi muda dalam mempelajari aliran pencak silat asli Banten sekaligus sebagai media promosi perguruan atau padepokan. Masih sangat disayangkan kemashuran pencak silat asli Banten hanya terdengar dan dikenal di seputar daerah berdirinya saja. Diharapkan untuk aliran Bandrong ini juga dapat mengirimkan para muridnya untuk mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat diberbagai level. Alasan bahwa dahulu pernah ada wakil dari Bandrong yang menyebabkan meninggalnya lawan tanding di suatu kejuaraan sudah tidak dapat dijadikan alasan lagi untuk mundur dari arena kejuaraan silat. Justru ini menjadi suatu tantangan bagi para guru besar dan pelatih Bandrong untuk bisa mengembangkan jurus-jurus mematikannya agar lebih aplikatif dalam suatu kejuaraan atau turnamen pencak silat yang mengedepankan aspek olah raga. Hampir semua perguruan silat mempunyai jurus-jurus mematikan yang dapat melumpuhkan lawan dalam satu atau dua gerakan. Tapi dengan mengembangkan jurus-jurus yang lebih aplikatif terhadap aturan kejuaraan pencak silat mereka dapat juga beradaptasi.
                Besar harapan dari pecinta seni dan budaya silat asli Banten untuk melihat persaingan secara positif dari padepokan Bandrong khususnya dan perguruan silat lain pada umumnya dalam memajukan aliran silatnya dengan manajemen modern. Akan sangat membanggakan apabila suatu waktu nanti menyaksikan kepiawaian para pendekar pencak silat dari Bandrong dalam memamerkan kehebatannya di kejuaraan dunia pencak silat. Atau kejuaraan antar padepokan Bandrong yang diikuti oleh berbagai negara dengan nama padepokan yang beraneka ragam misalnya Padepokan Bandrong Washington atau Padepokan Bandrong London. Semoga.

0 komentar:

Poskan Komentar