Rabu, 20 April 2011

PERGURUAN PENCAK SILAT HAJI SALAM BANTEN


Inti penguasaan jurus dari aliran silat Haji Salam adalah bagaimana mengantisipasi serangan dan gerakan lawan dengan reflek tubuh yang ditopang dengan teknis jurus dasar dan langkah. Gerakan tubuh mengikuti gerakan lawan dengan menggunakan tenaga lawan untuk menjatuhkannya. Dengan sekali gerakan dapat mengantisipasi serangan lawan dengan kelitan sekaligus serangan balasan

Perjalanan dan Sejarah Haji Salam
Kiyai Haji Salam yang bernama asli Abdus Salam adalah seorang pendekar silat yang bermukim di Kota Serang Banten, tepatnya di Kampung Kaujon. Abdus Salam lahir di Kampung Kebaharan Kota Serang sekitar tahun 1860-an dan wafat pada tahun 1955 dalam usia 90 an tahun. Dikisahkan beliau seorang pecinta beladiri silat yang gemar mengembara untuk mencari para pendekar silat dari satu perguruan ke perguruan yang lain yang dapat menutupi kekurangan ilmu silat yang sudah dimiliknya. Dan pada saat itu ada motivasi besar Abdus Salam untuk mengalahkan seorang pendekar silat yang bernama Lurah Bintang atau Lurah Jago.

Lurah Bintang adalah salah satu pendekar silat di Banten yang mempunyai ilmu silat yang tinggi dan dijuluki Lurah Bintang atau Lurah Jago oleh Penjajah Belanda karena kemampuannya menangkal dan mengusir para perampok. Lurah Bintang tidak dapat dikalahkan oleh Abdus Salam kala itu dalam kemampuan ilmu silatnya.. Untuk mengalahkan Lurah Bintang beliau melakukan pengembaraan di daerah Banten Selatan sampai dengan daerah Bogor. Pada saat itu apabila Abdus Salam muda mendengar ada seorang pendekar atau guru silat yang kesohor, dia datangi dan kemudian mencobanya. Apabila dia dapat dikalahkan, dengan sportif dia akan mengaku kalah dan berguru pada orang itu. Dan setiap kali selesai berguru pada satu pendekar silat, beliau langsung mengujinya dengan Lurah Bintang. Dan setiap dia mencoba ilmu silatnya pada Lurah Bintang beliau selalu kalah.. Tercatat sampai sepuluh kali beliau berguru pada berbagai perguruan silat. Dari hasil pengembaraannya tersebut berbagai aliran silat yang ada di Banten beliau pelajari dan kuasai.

Dalam pengembaraan terahirnya, beliau sampai di Gunung Bunder di daerah Ciampea Bogor. Di gunung tersebut bermukim seorang pendekar silat yang bernama Ki Asti atau disebut Ki Singamandaru. Dari sekian banyaknya orang yang datang menemui beliau hanya Abdus Salam yang diterima langsung menjadi murid sekaligus teman latih tanding Ki Asti. Selebihnya hanya diarahkan untuk mempelajari ilmu silat dari guru lain berdasarkan kemampuan dan bakat yang dimiliki orang tersebut. Dengan ditemani anak perempuan Ki Asti yang mempunyai ilmu silat tinggi juga, mulailah Abdus Salam berlatih di Gunung Bunder.

Dengan kemampuan silat yang sudah dimiliki dan latihan keras dibawah bimbingan Ki Asti, ahirnya Abdus Salam dapat mengalahkan anak peremuan Ki Asti dalam pertarungan silat yang menjadi acuan keberhasilan menguasai ilmu dari Ki Asti. Kemenangan dari anak Ki Asti pun dapat diperoleh dalam pertarungannya yang ketiga. Sebelumnya selalu dapat dikalahkan oleh anak perempuan Ki Asti.

Setelah dinyatakan sudah menguasai ilmu silat Ki Asti, beliau turun gunung dan pulang ke Serang. Tujuannya hanya satu pada saat pulang dari Gunung Bunder, mengalahkan Lurah Bintang. Begitu sampai di Serang beliau langsung menuju rumah Lurah Bintang untuk mencoba hasil latihannya di Gunung Bunder. Dan dalam sebuah pertarungan yang sengit, ahirnya Lurah Bintang dapat dikalahkan. Atas saran Lurah Bintang ahirnya Abdus Salam menghentikan pengembaraan mencari guru silat karena dianggap sudah mencapai tingkat yang sulit dikalahkan orang lain.

Pada saat perjalanan pulang dari Gunung Bunder sebelum bertemu dengan Lurah Bintang, beliau bertemu dengan seorang pendekar silat yang berasal dari Madura. Mereka ahirnya terlibat dalam satu pertarungan. Hanya dalam beberapa gerakan saja pendekar dari Madura tersebut dapat dikalahkan. Atas permintaan pendekar Madura tersebut Abdus Salam diminta untuk mengajarkan ilmu silatnya di Pulau Madura.

Setelah mengalahkan Lurah Bintang ahirnya Abdus Salam pergi ke Madura untuk mengajarkan ilmu silatnya. Tapi tentu saja sebelum mengajarkan ilmu silatnya beliau dicoba lebih dulu oleh guru besar silat yang ada disana. Ahirnya setelah dapat mengalahkan guru besar disana, Abdus Salam menghabiskan waktu beberapa bulan di Madura untuk mengajarkan ilmu silat yang dikuasainya. Dikarenakan tidak betah tinggal disana, Abdus Salam memutuskan untuk pulang ke Banten. Karena jasa atas pengajaran ilmu silatnya Abdus Salam diberikan bekal uang oleh para muridnya yang dipakai beliau untuk pergi haji sepulang dari Madura.

Aliran Silat Haji Salam
Sepulang menunaikan rukun Islam yang kelima dari Mekkah, Abdus Salam dikenal dengan nama panggilan Haji Salam. Ditengah profesinya sebagai pedagang kain di pasar Serang (Pasar Lama sekarang), Kiyai Haji Salam mengajarkan ilmu silatnya kepada orang-orang yang datang kepadanya. Dengan bekal pengalamannya bertarung dengan berbagai pendekar silat dan juga pengembaraanya dari satu perguruan ke perguruan lain, Haji Salam menciptakan dan membuat formulasi jurus-jurusnya sendiri. Beliau selaraskan jurus-jurus dari berbagai macam aliran silat yang pernah dipelajarinya dengan pengalaman beliau.

Ada beberapa nama dan gerakan jurus aliran Haji Salam ini terdapat kesamaan dengan aliran perguruan silat lain. Kesamaan ini dikarenakan dipadukannya unsur-unsur silat dari berbagai aliran di Banten dan juga formulasi gerakan yang diciptakan sendiri oleh Kiyai Haji Salam. Lengkapnya unsur-unsur silat dalam aliran Haji Salam meyakinkan para murid aliran silat ini untuk menguasai gerakan dasar dan juga gerakan lanjutannya.

Dari sekian banyak orang yang belajar aliran silat Haji Salam, tercatat empat orang murid utama yang diberikan kepercayaan oleh Kyai Haji Salam untuk menurunkan dan menyebarkan aliran silatnya yaitu R Djoemlan, M Soetoro, HM Toha, dan H Sophian Hamid. Dari keempat Guru Besar tersebut aliran Silat Haji Salam tersebar di daerah Banten. Dari kesepakatan keempat Guru Besar inilah aliran silat tersebut dinamakan Perguruan Pencak Silat Haji Salam. Semua tempat latihan atau padepokan yang tersebar di daerah Banten hasil penyebaran keempat Guru Besar tersebut menamakan perguruannya dengan Perguruan Pencak Silat Haji Salam tanpa ada embel-embel tambahan lain. Kecuali memang mereka memisahkan diri dan membuat perguruan baru yang dirasa sudah tidak menggunakan inti jurus aliran Haji Salam.

Jurus-jurus Perguruan Haji Salam terdiri dari Jurus Dasar, Jurus Langkah, Sambut Ewoh, Jurus Pasangan, Antrian, dan Ketrek atau Olahan. Inti penguasaan jurus dari aliran Haji Salam adalah bagaimana mengantisipasi serangan dan gerakan lawan dengan reflek tubuh yang ditopang dengan teknis jurus dasar dan langkah. Dari penuturan salah satu Guru Besar Haji Salam yang masih ada, H Sophian, “kenapa banyak orang yang tidak bisa mengalahkan Yai Haji Salam karena gerakan yang dikeluarkan untuk antisipasi serangan lawan itu cuma satu gerakan. Sementara lawannya harus mengeluarkan dua gerakan. Seolah-olah beliau tahu apa yang akan dilakukan lawannya sebelum menyerang atau menangkis serangan,” jelas beliau mengenang kemampuan gerakan gurunya.

Reflek tubuh ini dapat dicapai apabila seorang murid sudah pada tingkatan jurus Ketrek atau Olahan, tingkatan jurus yang mengaplikasikan jurus-jurus dasar, langkah, sambut, dan antrian, dalam sebuah permainan gerakan satu lawan satu. Dari penuturan Pak Dudung, salah seorang murid R Djoemlan, “seseorang belum bisa dikatakan menguasai aliran silat Haji Salam apabila sudah mengaplikasikan jurus-jurusnya dalam permainan Ketrek atau olahan. Dan untuk menguasainya seorang murid harus punya partner tetap dalam latihannya. Dari jurus Ketrek inilah jurus-jurus dasar dapat menempel dalam tubuh dan mematangkan gerak reflek,” terang beliau menirukan kata-kata dari Guru Besar R Djoemlan (Alm).

Kecepatan gerak reflek dalam aliran Haji Salam ditopang dengan melatih gerak bahu yang dipakai hampir dalam semua jurus-jurusnya, dan juga jurus langkah yang bisa dikatakan ciri khas aliran ini dengan formulasi bentuk yang indah. “jurus langkah ini harus dikuasai karena posisi kaki dan langkah kita menentukan keunggulan dalam sebuah pertarungan,” jelas H Chaerudin AR (Alm) salah seorang Guru Silat Haji Salam generasi kedua,  pada saat memberikan pengarahan jurus langkah.

Pengembangan Silat Haji Salam.
Atas dasar menjaga kelestarian budaya dan seni beladiri asli Banten  para Guru Besar dan para murid aliran silat Haji Salam sepakat untuk membentuk sebuah wadah kelembagaan formil untuk me-manage dan mengembangkan aliran ini. Pada tanggal 16 Mei 1980 bertepatan dengan 1 Radjab 1400 H bertempat kedudukan di Serang Banten, organisasi Perguruan Pencak Silat aliran Haji Salam (PPS HS) didirikan. Padepokan utama terdapat di Kepandean Kota Serang, dan sekertariat di Jl Lingkar Selatan no 6 Kota Serang Banten. Tempat latihan atau padepokan banyak tersebar di Serang dan Ciruas. “Dalam tahap persiapan, pengembangan aliran silat Haji Salam akan melebarkan sayapnya secara formil dengan membentuk kepengurusan organisasi di Jakarta, Bandung, Lampung, dan Jogjakarta,” tutur Maman Abdurahman selaku Ketua Umum Pengurus Pusat PPS HS periode 2007-2012.

Aliran Haji Salam termasuk dalam aliran silat tangan kosong yang mengandalkan kecepatan dan reflek tubuh. Dari gerak tangan, langkah kaki, sampai dengan bahu mengandalkan akurasi dan timing tepat dalam gerakan-gerakannya. Tidak ada unsur magis atau amalan yang harus dilakoni oleh para muridnya untuk menguasai jurus-jurus tertentu. Dari sifat dasar aliran ini seyogyanya pengembangannya tidak terkendala dengan berbagai persyaratan ritual dan semacamnya yang harus dijalani ketika akan menjadi anggota baru aliran silat ini. Artinya inklusifitas ini bisa mendorong penyebarannya karena dapat lintas kepercayaan, budaya, bahkan negara.

Seperti pada umumnya aliran silat asli Banten, Perguruan Silat Haji Salam terkesan mengalami penurunan. Indikasi penurunan ini terlihat dari semakin kurangnya peminat dari generasi muda menjadi anggota. Mereka lebih tertarik dan bangga ketka berseragam aliran bela diri dari mancanegara, dan melakukan latihan bersama di alun-alun kota. Harus ada upaya yang signifikan untuk menarik kembali minat generasi muda untuk mencintai kembali pencak silat asli Banten. Selaraskan dengan perkembangan jaman, masukkan unsur prestasi dan apresiasi dengan mengikuti berbagai pertandingan dan kejuaraan pencak silat. Dan seyogyanya pemerintah dareah melalui organisasi yang mewadahinya (IPSI) memikirkan ulang bagaimana caranya supaya perguruan silat Banten tidak punah ditempat asalnya.

Semoga dengan disertai niat yang tulus dan ikhlas, para pecinta seni dan budaya silat aliran Haji Salam dapat terus mempertahankan eksistensinya terutama di daerah asal kelahirannya, dan dapat mengembangkan kehadirannya di daerah luar Banten. Keterbatasan dana yang menjadi kendala permanen dapat diatasi dengan menggandeng para pengusaha yang mempunyai kecintaan pada pencak silat. Dan semoga Perguruan Pencak Silat Haji Salam tidak menjadi alat politik praktis yang hanya menjadi perkumpulan orang untuk mendukung kandidat calon kepala daerah tertentu. Belajar dari pengalaman, perpecahan dan kehancuran sebuah perguruan pencak silat seringkali dikarenakan hanya menjadi alat pengumpul masa saja pada saat pemilukada atau untuk kepentingan sesaat partai politik tertentu saja. Jadikan Perguruan Silat Haji Salam sebagai wadah keluarga pewaris dan pecinta aliran silat Haji Salam. Jangan jadikan lembaga dan organisasinya terlibat dalam politik praktis, dan biarkan anggotanya berbaju politik apapun atau pendukung siapapun tanpa melibatkan perguruan sebagai organisasi. Semoga!!

ANGEUN LADA - Warung Makan Doa Nini Aki



Salah satu kuliner khas Banten yang saat ini sudah jarang ditemuin adalah Angeun Lada atau Sayur Lada. Masakan angeun lada berasal dari daerah selatan Banten sekitaran Serang bagian Selatan, Pandeglang, serta Lebak. Biasanya Angeun Lada menjadi menu wajib buat keluarga yang disajikan pada saat hari-hari besar seperti Lebaran atau acara kumpul keluarga di daerah tersebut


Kemeriahan keluarga menjadi tidak lengkap dan afdhol apabila tidak ada sajian angeun lada untuk disantap pada hari itu. Seperti di tempat lain dalam merayakan kemeriahan lebaran yang tidak lengkap apabila tidak menyantap opor ayam dengan ketupatnya. Dan angeun lada ini juga sangat nikmat apabila disantap dengan ketupat.

Angeun lada adalah olahan masakan kuah yang menyerupai soto daging dari daerah lain atau empal daging yang banyak dijumpai di warung nasi uduk Serang. Yang menjadi pembeda dan menjadi ciri khas masakan ini adalah campuran daun walang yang beraroma kuat serta bahan olahan utama yang digunakan adalah jeroan dan tetelan kerbau. Daun walang atau dalam bahasa ilmiahnya achasma walang (blum) val adalah jenis tumbuhan terna dengan tinggi sekitar 2 meter. Disebut daun walang karena daun ini mempunyai aroma kuat seperti serangga walang sangit. Tumbuhan ini banyak dijumpai di daerah selatan Banten. Selain dipakai sebagai campuran masakan, tumbuhan walang yang banyak mengandung minyak atsiri ini oleh masyarakat baduy dipakai sebagai pengusir hama padi dengan cara membakarnya di saung huma.

Bagi penikmat kuliner yang tidak lagi menjumpai masakan anguen lada di sajian keluarga, atau yang ingin merasakan uniknya rasa kuah campuran daun walang bisa mengunjungi Warung Makan Doa Nini Aki atau biasa disebut para pelanggannya dengan warung makan Nini Aki. Warung makan ini terletak di jalan raya Petir, Kab Serang, tidak jauh dari Pasar Petir. Kira-kira 15 km dari alun-alun Kota Serang. Tempat makan yang sudah berdiri sejak 15 tahun yang lalu ini sudah banyak dikenal karena sajian utamanya yaitu angeun lada atau biasa disebut di warung makan ini dengan nama sayur lada. Tempat makan ini sekarang dikelola oleh Teh Hindun, anak dari pendiri dan pemilik warung makan Doa Nini Aki. Nama dari warung makan ini pun diambil dari nama panggilan orang tua teh Hindun yang disematkan para pelanggan diawal buka. Pasangan suami istri yang terbilang cukup umur ini dipanggil oleh para pelanggannya sebagai nini dan aki. Panggilan dalam bahasa sunda untuk nenek dan kakek. Dari nama panggilan itulah nama warung ini berasal.

Warung makan ini pada mulanya hanya berjualan gorengan yang diperuntukkan orang-orang yang lewat di depan rumah. Letaknya cukup strategis dipinggir jalan raya Petir dan juga dekat dengan gedung sekolah SMP. “Mulanya sih ada permintaan dari seorang guru SMPN Petir yang gak jauh dari sini buat menyediakan makan siang. Karena pada waktu itu kan belum ada warung yang jualan nasi. Nini ahirnya buat hidangan angeun lada buat pak guru itu dan beberapa porsi tambahan aja. Tapi lama-lama banyak yang datang buat pesen masakan Nini,” jelas teh Hindun menerangkan asal muasal disajikannya masakan angeun lada. “Kalo sekarang mah pelanggannya kebanyakan dari daerah Serang dan Rangkasbitung. Kalo dari Serang kebanyakan para pegawai negeri sipil datang kesini pada waktu makan siang. Kalo pelanggan tetap mah para supir terutama supir truck yang datang kesini buat sarapan atau makan siang.” lebih jauh teh Hindun menjelaskan para pelanggannya.

Bahan pokok angeun lada yang diolah di warung makan Doa Nini Aki ini terdiri dari tetelan daging, usus, dan babat dari kerbau bukan sapi. Daging kerbau memang biasa dikonsumsi dan banyak menjadi masakan khas Banten. “Mula-mula tetelan daging, usus, dan babat direbus. Kemudian tetelan daging disisir jadi kecil-kecil. Usus dan babat juga di potong menjadi irisan kecil. Setelah itu direbus lagi dengan dicampur bumbu-bumbu seperti ketumbar, cabai merah, bawang merah dan bawang putih, kemiri, dan jahe. Dan jangan lupa daun walang juga dimasukkan berbarengan dengan bumbu-bumbu tadi,” kata teh Hindun menjelaskan proses masaknya. Campuran bahan pokok tetelan daging, usus, dan babat ini terasa nikmat disajikan dalam satu mangkok. Aroma daun walang yang bercampur dengan bumbu rempah lain juga tidak sekuat pada saat masih berbentuk utuh daun. Malah membuat kuahnya menjadi lebih segar dengan aroma khas. Tidak sedikit orang yang datang ke tempat ini awalnya tidak suka dengan aroma daun walang menjadi ketagihan justru karena kuahnya. Seperti yang dituturkan salah satu pelanggan setia tempat makan ini, Pak Fahmi, “awalnya saya diajak temen datang kesini. Pertama nyoba sih masih agak kaget dengan aroma walang sangit yang kadang saya jumpai di rumah dari serangga walang sangit. Tapi pada saat nyoba yang kedua malah jadi ketagihan sampai sekarang. Aroma daunnya malah menjadi penyegar kuah pedasnya,” cerita salah satu kontraktor dari Kota Serang ini.

Tapi bagi yang tetap kurang suka pada angeun lada, warung makan ini juga menyediakan menu masakan lain seperti soto ayam, soto daging, dan soto babat. Ada juga menu tambahan lain seperti ayam goreng, ayam bakar, dan ikan goreng. Harga yang berikan untuk satu porsi angeun lada dan soto sebesar Rp10.000. harga yang relatif murah untuk ukuran seporsi penuh ukuran mangkok sedang. Dengan nasi mengambil sendiri, pelanggan dapat menyesuaikan porsinya dengan kebutuhan masing-masing. Ditambah dengan lalapan segar yang tersedia di meja membuat pelanggan menjadikan tempat ini menjadi tempat favorit untuk bersantap siang. Dan tersedia buah pisang gratis yang tergantung di salah satu sudut ruangan yang dapat dinikmati sebagai makanan penutup. Selamat menocba.

Rabu, 09 Maret 2011

NASI BELUT GORENG TEH ENDAH


 Magis nya rasa belut sawah goreng
 “Sudah pernah cobain masakan nasi belut goreng didekat sini?”, tanya seorang teman saat melewati daerah Baros, sebuah kecamatan di selatan Kabupaten Serang yang berjarak sekitar 12 Km dari alun-alun Kota Serang ke arah Kota Pandeglang.

Tempat yang dimaksud teman adalah Rumah Makan Teh Endah. Terletak di dekat pasar Baros, sebelah kiri dari arah Kota Serang kira-kira 30 meter sebelum pertigaan ke arah Petir. Rumah makan yang sudah berdiri sejak tahun 1980 ini meyajikan menu utama belut goreng. Tidak seperti di rumah makan padang yang menyajikan belut goreng kering berukuran kecil, belut goreng di warung Teh Endah ini adalah belut dengan ukuran lebih besar. Dalam satu kilogram terdiri dari 10 sampai dengan 15 ekor belut. Penyajiannya pun berbeda dengan penyajian belut yang pernah kita dijumpai di warung pecel lele. Kalau biasanya di warung pecel lele disajikan dalam satu cobek dengan sambal tomatnya, maka di Rumah Makan Teh Endah ini belut goreng disajikan terpisah dengan sambal dan lalapannya.
“Selain belut ada juga pepes belut, ayam goreng, dan pepes ikan mas. Tapi yang paling sering dipesan orang diwarung ini ya belut goreng”, ujar Pak Suwardi, pemilik Rumah Makan Teh Endah ini. Keistimewaan rasa dari belut goreng di rumah makan ini karena belut yang digunakan adalah belut sawah dari daerah Tanara, Kecamatan Pontang. “Kalo belut yang bukan dari sawah itu rasanya kurang gurih dan gak kering kalo digoreng. Dari dulu sampai sekarang belut yang saya olah di tempat ini dikirim dari Desa Tanara Kecamatan Pontang,” ujar Pak Suwardi sambil memperkenalkan pemasok tunggal belut yang baru saja mengirimkan belut pesanannya. Setiap dua atau tiga hari sekali pemasok belut dari Pontang mengirimkan hasil tangkapannya ke rumah makan ini. Setiap pengiriman pemasok membawa sekitar 30 Kg belut hasil tangkapan dari sawah.
Pak Suwardi
                Belut goreng di Rumah Makan Teh Endah ini disajikan dalam bentuk potongan kecil-kecil kering yang disajikan dengan campuran bumbu rempah. “Belut yang akan digoreng pertama dibersihkan dulu, diambil jeroannya, kemudian dipeprek. Ini yang bisa bikin tulangnya jadi empuk. Kemudian dipotong kecil-kecil dan dikasih bumbu. Setelah 15 menit baru di goreng,” papar Pak Suwardi menjelaskan proses pengolahan masakannya. Selain daging belut yang gurih, masakan terasa lebih lezat karena belut goreng ini disertai dengan bumbu rempah seperti pada masakan ayam kremes. Jadi selain daging belutnya yang gurih, campuran bumbu kering kasar yang memenuhi piring sajinya membuat rasa belut jadi semakin lezat. Bumbunya sederhana, terdiri dari ketumbar, bawang merah, bawang putih, kunyit, dan tomat. Tapi dengan komposisi yang pas terasa sangat spesial. Apalagi terasa lebih nikmat dengan dilengkapi lalapan dan sambal tomat. “Sambel tomat disini sambel dadakan. Karena baru dibikin kalo ada yang memesan,” ujar Bapak pensiunan pegawai puskesmas Baros ini.
                Belut yang termasuk dalam jenis ikan ini memiliki bentuk fisik yang kurang disukai sebagian orang. Tapi dibalik bentuknya yang kurang menarik ini, ternyata belut mempunyai kandungan vitamin dan mineral yang tinggi. Belut kaya akan zat besi, jauh lebih tinggi dibandingkan zat besi pada telur dan daging. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, penyakit yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu. Belut juga kaya akan fosfor, yang berguna untuk memperkokoh dan memperkuat tulang. Nilainya dua kali lipat fosfor pada telur. Kandungan vitamin A dan B pada belut juga cukup tinggi yang berguna untuk penglihatan, pertumbuhan, dan membentuk sel darah merah. Dari komposisi gizinya, belut mempunyai nilai energi yang tinggi pula, jauh lebih tinggi dibandingkan telur dan daging sapi.  Hal itulah yang menyebabkan belut sangat baik sebagai sumber energi. Nilai protein pada belut setara dengan protein daging sapi, tetapi lebih tinggi dari protein telur. Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk sumber protein bagi semua kelompok usia, dari bayi hingga usia lanjut.
                Barangkali tempat makan di Kota Serang yang menyajikan menu olahan belut, hanya ada di Rumah Makan Teh Endah ini. Tempat makan ber-cat oranye yang terbilang sederhana ini dinamakan Rumah Makan Teh Endah sesuai dengan nama almarhum istri Pak Suwardi. Berawal dari warung kecil-kecilan, Teh Endah diminta para pegawai perkebunan yang letaknya tidak jauh dari rumahnya untuk menyediakan masakan untuk makan siang mereka. Dari penawaran seorang teman dari daerah Tanara yang bisa menyediakan belut, tercetuslah ide untuk membuat masakan yang bahan bakunya dari belut. Sejak itulah masakan belut goreng menjadi menu makan siang pegawai perkebunan setiap harinya.
Teh Endah sendiri sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Dan sekarang untuk urusan operasional diserahkan kepada anaknya, Teh Iin. Dengan dibantu dua orang tenaga kerja, Teh Iin mengolah masakan belut rata-rata 10 Kg setiap harinya. Bagi para pecinta kuliner bisa mngunjungi tempat makan ini setiap hari dari jam 10 pagi sampai dengan jam 5 sore. Paling ramai dikunjungi biasanya pada saat jam makan siang, terutama oleh para pegawai pemerintahan. “Pak Walikota Cilegon biasanya datang ke tempat ini sore hari sekalian buka puasa. Kalo mau dateng biasanya beliau telpon dulu buat disiapin. Dan kalo kesini seringnya ramean bawa staf-stafnya. Banyak juga pelanggan kita membawa rekan kerjanya dari luar kota untuk makan disini. Kita pernah kedatangan pelanggan dari Bali, katanya ketagihan pengen makan disini lagi,” jelas pak Suwardi. Satu porsi belut goreng ini dihargai 45 ribu, yang terdiri dari nasi, belut goreng, lalapan, sayur asem, dan sambal tomat. Satu porsi ini dapat dinikmati 3 sampai 4 orang karena porsi belut goreng yang cukup banyak. Anda berani coba?

Senin, 07 Maret 2011

PERGURUAN PENCAK SILAT BANDRONG BANTEN - PADEPOKAN BANDRONG RENGGONG AMPEL

Pengembangan Seni Budaya Tradisional dengan Manajemen Modern
Sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan aliran Pencak Silat Bandrong, Padepokan Bandrong Renggong Ampel memulai langkah modernisasi untuk pengembangan dan pelestarian aliran Pencak Silat Bandrong dengan membentuk organisasi formal.

Secara historis seperti yang dituturkan oleh KH Mansyur Muhyidin sesepuh dan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Perguruan Pencak Silat Bandrong, pada jaman Kesultanan Banten terdapat tiga aspek seni dan budaya yang dikembangkan pada saat itu. Pertama, Paku Banten, bersifat atraksi dan pertunjukan kebolehan untuk menyambut tamu-tamu agung atau tamu kehormatan Kesultanan Banten seperti Debus, Gracle, dan Terbang Gede. Kedua, Kendang Istri Tari Kolot, suatu pertunjukan seni tari yang banyak diajarkan kepada kaum wanita yang diciptakan khusus sebagai taktik mengalihkan perhatian musuh terutama pada saat penjajahan Belanda. Ketiga, Pencak Silat Bandrong, dikembangkan di jajaran pasukan khusus kerajaan untuk kepentingan bela negara dan melawan musuh. Seperti yang diterangkan pada tulisan pertama, aliran Bandrong ini berkembang seiring dengan masuknya khasanah seni dan aliran silat kwitang dan juga penyerapan aliran dari aliran pencak silat lain. Sehingga memunculkan berbagai padepokan yang masing-masing mempunyai kekhususan dan pengembangan jurus-jurus tertentu yang membedakan satu sama lain. Tapi padepokan-padepokan ini tetap dalam ajaran inti aliran Bandrong.

Latar Belakang Pendirian
Pengurus Harian
Padepokan Bandrong pada saat ini berjumlah lebih dari 30 padepokan yang banyak tersebar di daerah Serang, Cilegon, dan Lampung. Padepokan Bandrong Renggong Ampel adalah salah satu padepokan Bandrong yang bertempat di Kampung Ampel Desa Puloampel Kec. Puloampel Kab.Serang. Padepokan Renggong Ampel secara formal dibentuk dan berdiri pada tanggal 13 Oktober 2010 (5 Dzul Qo’idah 1431 H) dengan guru besarnya Abah Ali Rahim Kasim. Abah Ali Rahim adalah salah satu murid langsung dari Yai Samsudin yang merupakan pewaris aliran Bandrong dari Ki Marip. Dengan dikomandoi oleh salah satu mudridnya yaitu Ahmad Faroji Jauhari, S.Ag. M.Pd, pembentukan padepokan Bandrong Renggong Ampel ini ahirnya terwujud. “Transformasi dari tradisional ke arah modern itu sangat perlu. Karena dengan perubahan jaman ini kita membutuhkan manajemen yang baik agar seni dan budaya Bandrong tidak punah. Oleh karenanya kita membuat wadah formal dari kegiatan pengajaran aliran Bandrong di kampung Ampel ini yang sudah berjalan lama tapi tidak ter-manage dengan baik menjadi lebih terorganisir dan berkembang lebih baik lagi,” ujar Faroji yang juga berprofesi sebagai dosen di IAIN Serang. “ibarat pisau yang berkualitas baik, apabila tidak diasah dan dijaga dengan baik hanya akan tinggal cerita saja dikemudian hari,” tambah Faroji yang diserahi tanggung jawab di kepengurusan harian padepokan sebagai Sekertaris Umum. Nama Renggong Ampel diambil dari nama salah satu guru besar Bandrong dan tempat berdirinya padepokan ini. Ki Renggong adalah salah seorang guru besar Bandrong pada masa sebelum Ki Marip (seorang guru besar yang mengembangkan Bandrong di tahun 1920-an). Sedangkan Ampel adalah Kampung Ampel tempat berdirinya padepokan ini.
Abah Ali Rahim
Atas dasar kecintaan dan kesadaran akan pelestarian budaya dan seni Bandrong yang sudah semakin ditinggalkan oleh generasi mudanya, Padeopokan Bandrong Renggong Ampel memulai langkah strategis dengan membentuk organisasi formal yang sudah didaftarkan ke Dewan Pimpinan Pusat Perguruan Pencak Silat Bandrong selaku wadah aliran silat Bandrong. “Supaya tidak putus link nya dengan generasi muda, maka kami membentuk organisasi formal agar lebih tertata lebih baik secara kegiatan dan juga pengelolaanya. Siapa bertanggung jawab apa sudah dipetakan dengan baik,” jelas Mad Saleh Kesidin S.Pd selaku Ketua Umum pengurus harian. “kalo dulu aliran Bandrong ini diajarkan di dalam rumah. Bisa di ruang tengah, bisa juga di dapur. Jadi ada kesan malu dibilang pamer kalo kita latihan kelihatan banyak orang. Tapi sekarang stigma itu kita hilangkan karena justru dengan memamerkan keberadaan kami akan baik untuk regenerasi dan menarik para generasi muda mempelajari aliran Bandrong ini,” ungkap ketua harian yang juga berprofesi sebagai guru ini. Padepokan ini dalam struktur organisasinya terdapat 4 bidang yaitu, Pelatihan dan Pengkaderan, Kesenian Kendang, Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan Seni dan Atraksi. Semua kepengurusan harian dan kepala bidang merupakan murid dari aliran Bandrong. “Kita ingin agar kepengurusan dan ajaran Bandrong selaras sejalan. Orang-orang yang duduk dalam kepengurusan organisasi harus mengerti dan menjiwai aliran Bandrong. Jadi mereka selaku pengurus juga murid dari Abah Ali Rahim,” ungkap Faroji lebih jauh menerangkan mengenai kepengurusan.

Jurus Bandrong
Latihan di padepokan Renggong Ampel dilakukan malam hari yaitu setiap selasa malam dan sabtu malam. Dimulai dari sekitar jam 8 sampai jam 10 malam. Ada sekitar 32 murid yang tercatat dalam daftar padepokan baik yang aktif maupun non aktif. Regenerasi dan pengembangan padepokan ini sudah berjalan baik. Terbukti sebagian besar murid yang mengikuti latihan adalah usia sekolah. Dari tingkat SD sampai dengan SMA. Para murid pun sudah memakai seragam Pencak Silat warna hitam dengan garis merah dan sabuk merah. Seragam ini menjadi hal cukup baru di padepokan Bandrong. Karena sebelumnya mereka tidak mempunyai seragam khusus padepokan. Ini disebabkan karena dalam sejarah pengembangan aliran Bandrong ini bersifat tertutup dan pilihan. Seorang guru hanya mengajarkan pada orang-orang tertentu saja yang dianggap mampu dan layak untuk diturunkan ilmu Bandrong. Oleh karena sifatnya yang ekskulsif dan tertutup tidak banyak orang yang mempelajari dan menguasai aliran Bandrong ini. Tapi dengan diterapkan  inklusifitas, aliran Bandrong dapat lebih berkembang dan dipelajari banyak orang.
Pada jaman dahulu tidak mudah bagi seorang guru menerima seseorang untuk dijadikan sebagai murid. Karena seorang guru benar-benar selektif dalam memilih murid untuk dapat menerima seluruh ilmu yang akan diturunkan kepadanya. Bagi seorang murid selain harus mempunyai niat yang mantap juga mampu menjalankan amanat yang diberikan guru kepadanya. Sekarang persyaratan untuk menjadi murid aliran bandrong tidak seketat dulu. Tetapi beberapa hal dasar harus tetap dijalankan sang murid. Seperti menjaga dirinya agar tidak secara semena-mena menggunakan keahlian Bandrongnya. Karena selain wajib  menjaga amar ma’ruf nahi munkar juga akibat buruk pada lawan yang ditimbulkan dari keampuhan jurus Bandrong.
Jurus Bandrong di Padepokan Renggong Ampel terdiri dari 6 jurus pokok. Masing-masing jurus pokok ini mempunyai 4 jenis gerakan. Gerakan masing-masing jurus ini terdiri dari gerakan polos, gerakan totog, gerakan seliwe, dan gerakan kombinasi. Jurus-jurus pada aliran Bandrong mempunyai ciri khas gerak yaitu gerakan tangan dan kaki sangat cepat. Posisi tangan yang terbuka dan teknik bawah yang cepat dapat digunakan untuk menjatuhkan lawan dengan cara mengambil kaki lawan dan mengangkatnya ke atas dengan posisi kepala lawan di bawah kemudian dapat dilemparkan dengan jarak yang sangat jauh. “Jurus Bandrong ini adalah jurus yang dikatakan bertahan sekaligus menyerang. Selain melindungi pertahanan juga gerakannya sebagai serangan kepada lawan. Makanya posisi tangan terlihat terbuka dapat memancing lawan untuk melakukan serangan,” ungkap Faroji dalam memperkenalkan jurus Bandrong Renggong Ampel. Dalam istilah KH Mansyur, Cuma ada dua pilihan yang ditawarkan kepada lawan ketika berhadapan dengan pesilat Bandrong, “ingin jatuh terlentang apa jatuh telungkup?” canda beliau sembari memperagakan sedikit gerakan Bandrongnya. Selain gerakan cepat dalam menjatuhkan lawan, jurus Bandrong yang membahayakan lawan adalah pukulan datar yang mengarah rusuk dan ulu hati. Terbukti dalam pertandingan Pencak Silat yang diikuti oleh wakil perguruan Bandrong pada tahun 1984, lawan bertandingnya sampai ada yang meninggal dunia. Salah satu alasan inilah yang membuat wakil dari aliran Bandrong tidak mengikuti lagi berbagai pertandingan pencak silat yang diselenggarakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) di semua ajang pertandingan.

Penutup
                Bandrong sebagai warisan seni dan budaya Pencak Silat asli Banten tertua seyogyanya mendapat perhatian lebih dari para pewaris aliran ini. Transformasi pengelolaan dari metode tradisional ke arah yang lebih modern mutlak diperlukan seiring dengan perkembangan jaman. Salah satu sebab ditinggalkannya seni dan budaya pencak silat asli Banten karena manajemen perguruan silat yang masih bersifat seadanya. Masih jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan perguruan pencak silat dari daerah lain yang sudah berkembang di tingkat nasional dan bahkan berkembang di banyak negara. Mereka juga sudah ‘berbicara’ banyak di level nasional maupun internasional dalam kejuaran silat dan seni. Perlu dipikirkan lagi bagi para pewaris aliran Bandrong ini bagaimana caranya bisa menarik minat para generasi muda khususnya anak-anak dan remaja usia sekolah untuk tertarik dan mempelajarinya. Jangan sampai terputus link dengan generasi mudanya hanya karena salah pengelolaan.
                Kesadaran akan perlunya manajemen yang baik diaplikasikan oleh para murid dan kasepuhan Bandrong di Desa Ampel dengan membentuk kepegurusan formal dengan nama Padepokan Bandrong Renggong Ampel. Dengan adanya wadah formal dapat mengembangkan aliran Bandrong ini ke arah yang lebih baik. Pengelolaan yang terarah dan terorganisir dapat membuka peluang kepada generasi muda untuk mengetahui, memepelajari, dan mencintai budaya asli daerahnya sendiri. Diharapkan untuk padepokan Bandrong lain dapat juga mengikuti langkah yang telah dijalankan oleh Padepokan Renggong Ampel dan berlomba menjadi yang terbaik dalam pengelolaan dan regenerasinya.
                Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek olah raga dalam pengembangan dan penyebaran pencak silat sangat efektif. Unsur-unsur prestasi dan apresiasi diperlukan untuk mendorong generasi muda dalam mempelajari aliran pencak silat asli Banten sekaligus sebagai media promosi perguruan atau padepokan. Masih sangat disayangkan kemashuran pencak silat asli Banten hanya terdengar dan dikenal di seputar daerah berdirinya saja. Diharapkan untuk aliran Bandrong ini juga dapat mengirimkan para muridnya untuk mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat diberbagai level. Alasan bahwa dahulu pernah ada wakil dari Bandrong yang menyebabkan meninggalnya lawan tanding di suatu kejuaraan sudah tidak dapat dijadikan alasan lagi untuk mundur dari arena kejuaraan silat. Justru ini menjadi suatu tantangan bagi para guru besar dan pelatih Bandrong untuk bisa mengembangkan jurus-jurus mematikannya agar lebih aplikatif dalam suatu kejuaraan atau turnamen pencak silat yang mengedepankan aspek olah raga. Hampir semua perguruan silat mempunyai jurus-jurus mematikan yang dapat melumpuhkan lawan dalam satu atau dua gerakan. Tapi dengan mengembangkan jurus-jurus yang lebih aplikatif terhadap aturan kejuaraan pencak silat mereka dapat juga beradaptasi.
                Besar harapan dari pecinta seni dan budaya silat asli Banten untuk melihat persaingan secara positif dari padepokan Bandrong khususnya dan perguruan silat lain pada umumnya dalam memajukan aliran silatnya dengan manajemen modern. Akan sangat membanggakan apabila suatu waktu nanti menyaksikan kepiawaian para pendekar pencak silat dari Bandrong dalam memamerkan kehebatannya di kejuaraan dunia pencak silat. Atau kejuaraan antar padepokan Bandrong yang diikuti oleh berbagai negara dengan nama padepokan yang beraneka ragam misalnya Padepokan Bandrong Washington atau Padepokan Bandrong London. Semoga.

Minggu, 20 Februari 2011

Selasa, 01 Februari 2011

NASI UDUK SERANG


Selain masakan khas Banten yang terkenal seperti rabeg, sate bandeng, sate bebek, dan nasi sumsum, nasi uduk adalah jenis makanan yang banyak dijumpai di daerah Serang, Banten. Masakan ini dapat dijumpai hampir diseluruh sudut daerah Serang, terutama di pagi hari.
 

Dimana warung-warung nasi uduk membuka dagangannya untuk konsumsi anak sekolah dan pekerja yang berangkat pagi-pagi ke sekolah dan tempat kerja. Mereka biasanya membuka dagangannya hanya beberapa jam saja, dari jam 6 sampai dengan jam 8 pagi. Menu yang disediakan pun cukup sederhana, yaitu nasi uduk, goreng tempe atau bakwan, sayur tempe, dan telor pedas. Berbeda dengan penjual nasi uduk pagi hari, warung nasi uduk yang berjualan di malam hari mempunyai ciri khas menu yang menjadi ciri khas nasi uduk Serang, yaitu empal daging. Hampir disemua tempat penjual nasi uduk di malam hari menyajikan menu ini. karena empal daging sudah menjadi menu utama untuk disantap dengan nasi uduk. Mungkin orang yang berasal dari luar Serang akan bingung dengan istilah empal daging ini, terutama orang dari daerah Jakarta. Karena masakan daging yang disebut empal ini adalah daging sapi  dengan kuah pedas kemerahan yang diolah dengan selera bumbu khas Serang. Berbeda dengan nasi uduk khas Betawi yang serba kering dan di goreng dengan mengandalkan sambel kacangnya. Dan istilah empal untuk nasi uduk Betawi adalah daging sapi yang digoreng.
                Banyak penjual nasi uduk khas Serang ini sudah bisa dikatakan Legenda, karena berjualan sejak 20-an tahun yang lalu. Malah ada yang sudah berjualan sejak tahun 1959. Dan rata-rata dari mereka sudah masuk ke generasi kedua yang meneruskan bisnis dari orang tuanya. Menu utama yang disajikan dari sejak dulu adalah nasi uduk dengan empal dagingnya. Empal daging yang disajikan dengan irisan kecil ini adalah daging atau jeroan sapi yang direbus selama beberapa jam sampai dengan matang atau empuk, kemudian dicampur dengan bumbu seperti cabai dan rempah-rempah. Empal ini disajikan terpisah dengan kuahnya atau diletakkan dalam satu piring dengan nasi uduknya. Tergantung selera dan permintaan dari pelanggan. Ditempat nasi uduk Mang Mamad, penyajian empal akan dipisah apabila pelanggan tidak meminta untuk dicampur dipiring nasi uduknya. Tapi ditempat lain, apabila pelanggan tidak memesan secara khusus akan dicampur satu piring dengan nasi uduknya. Kuahnya ada dua macam, kuah kental dan kuah encer. Di warung Kang Hariri kita dapat memesan kuahnya sesuai dengan selera.
                Omset penjualan yang diperoleh masing-masing warung nasi uduk ini berbeda-beda. Tapi satu kesamaannya adalah tidak ada yang bisa memperkirakan berapa porsi yang terjual dalam satu hari, atau berapa pendapatan kotor perhari nya. Mereka hanya bisa menjelaskan konsumsi bahan utama beras, daging sapi, dan cabai. Berkisar 20 – 50 Kg daging sapi,  20 – 30 Kg beras, dan 1 Kg cabai rata-rata dibutuhkan dalam sehari.
                Dan satu kesamaan yang terjadi di semua warung nasi uduk ini adalah tidak adanya ekspansi tempat baru atau membuka cabang baru di tempat lain di daerah Serang atau di kota lain. Hampir seragam mereka menjawab bahwa tidak adanya orang yang kompeten atau yang bisa dipercaya untuk membuka warung lain di tempat baru. Kecuali warung nasi uduk Mamng Mamad yang membuka cabang di tempat lain oleh salah satu anaknya di daerah Pakupatan Serang. Akan seru rasanya apabila kita menjumpai nasi uduk Mang Mamad atau Lontar Pos di Jakarta untuk melepas kangen terhadap masakan daerah Serang dengan empal dagingnya.

Nasi Uduk Lontar Pos
       Terletak di daerah Lontar Pos Kota Serang yang membuka warung makan nasi uduk sejak tahun 1982. Sekarang dikelola oleh Mang Johan yang menggantikan bapaknya Sahrani yang berasal dari kampung Pekarungan. Berasal dari garasi kecil sekarang warung tersebut berada dipinggir jalan Mayor Syafei berbentuk warung tenda yang cukup panjang.
Kang Johan
       Kalo dihitung dari sejak dikelola oleh orang tua Mang Johan, warung ini sudah buka sejak tahun 1959, dengan pelanggan tetapnya para sopir truk yang melintas dari pelabuhan Merak ke arah Jakarta dan wilayah pulau Jawa. Empal daging menjadi menu utama dengan tambahan telor asin dan emping yang cukup lebar untuk menutupi seluruh piring makan. Satu porsi nasi uduk dan empal daging di hargai Rp 15.000, ditambah dengan satu emping besar menjadi Rp 20.000. Letak yang strategis tidak jauh dari Kantor DPRD Kota Serang membuat  pelanggan yang banyak menggunakan mobil menjadikan tempat ini untuk menyantap nasi uduk. Buka sejak jam 4 sore sampai dengan jam 2 subuh.

Nasi Uduk Kang Hariri.
Kang Hariri & Istri
         Buka di Magersari dari jam 4 sore sampai dengan jam 4 subuh di depan Rutan Serang yang masih satu jalan dengan Nasi Uduk Lontar Pos, Jl Mayor Syafei Serang. Dengan porsi sedangnya tempat ini banyak dikunjungi sejak habis magrib setiap harinya. Satu porsi nasi uduk empal daging ditambah satu piring kecil emping melinjo dihargai Rp 10.000. Disediakan juga acar timun dan wortel yang bisa dinikmati di meja saji. Kang Hariri adalah generasi kedua yang mendapat resep masakannya dari sang ibu, yang sudah buka sebelum tahun 80-an dengan menu yang sama. Pertama buka tahun 1983, sempat pindah-pindah tempat ke Pasar Rau Serang, ahirnya sejak tahun awal tahun 90 menetap di Magersari sampai sekarang. Dengan warung tenda yang relatif kecil membuat pelanggan harus rela berbagi tempat untuk makan dimeja kecil yang tersedia.

Nasi Uduk Mang Mamad

        Warung tenda ini buka dari habis magrib di kawasan Pasar Lama, Serang. Hampir setiap harinya terlihat banyak pelanggan yang datang mengantri menunggu Kang Dani membereskan dagangannya untuk dibuka. Menu yang tersedia cukup lengkap di warung Mang Mamad ini. Dari menu utama empal daging, tersedia juga empal goreng, ayam goreng, dan ayam bakar. Kang Dani adalah anak dari Mang Mamad, pendiri warung nasi uduk ini dari Kampung Pasar. Buka sejak tahun awal tahun 80-an ditempat yang tidak jauh dari tempat yang sekarang.  Penyajian empal daging yang diiris kecil dalam mangkok terpisah membuat pelanggan dapat menikmati kuahnya yang pedas segar.
Kang Dani
       Satu porsi nasi uduk dengan semangkok empal, dan sepiring kecil emping melinjo dihargai Rp 16.000. Pelanggan juga dapat menikmati lalapan lengkap yang tersedia di meja saji untuk menemani pedasnya sambal kacang. Ciri khas yang lain dari warung ini adalah tersedianya Baso Tahu goreng yang jadi incaran para pelanggan untuk dibawa pulang sebagai makan camilan dirumah. Dengan harga Rp 2.000 kita dapat menikmati baso yang dibungkus dengan tahu yang dinikmati dengan cabai rawit.

Nasi Uduk Family
   Apabila kita berjalan dari terminal bis Pakupatan Serang ke arah Jakarta, sebelah kiri sekitar 200 meter akan menjumpai Rumah Makan Famly. Terletak di pinggir Jalan Raya Jakarta membuat cukup strategis bagi pelanggannya yang berada di sekitar pakupatan maupun Serang Timur untuk berkunjung ke rumah makan ini. Bermula dari warung kecil di pinggir Jalan Raya Jakarta yang hanya dengan penerangan lampu patromak, Ibu Hj Sukriyah dan suaminya membuka warung makan nasi uduk tahun 1982. Sekarang dengan bangunan permanen tempat makan nasi uduk yang diberi nama Rumah Makan Family ini dapat menampung sekitar 30 orang. Pelanggannya banyak dari pegawai pemerintahan dan juga rombongan yang datang dari luar kota sehabis ziarah ke Kawasan Banten Lama.
Bu Hj Sukriyah
      Letaknya yang cukup strategis dan jam buka yang relatif lebih awal dari pedagang nasi uduk lainnya membuat para penggemar nasi uduk untuk datang ke tempat ini. Dengan menu yang beragam mulai dari empal daging kuah kental, jeroan daging dengan kuah yang sedikit encer, ayam bakar, ayam goreng, daging gepuk goreng, dan sayur sambal tahu tempe membuat pelanggan mempunyai banyak pilihan seesuai dengan selera. Buka dari jam 10 pagi sampai dengan jam satu 1 malam. Satu porsi empal daging dihargai Rp 14.000 ditambah dengan emping melinjo besar menjadi Rp Rp 17.000.

Nasi Uduk Cigabus
Terletak di jalan Ayip Usman, Cigabus Kota Serang, terdapat sekitar 6 warung nasi uduk yang berderet saling berdekatan di kiri kanan sebelah timur Pasar Rau Serang ini. Warung yang kesemuanya menjual menu nasi uduk dan lauk pauknya ini mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Buka sekitar awal tahun 2000, warung nasi uduk ini tidak menjual empal daging seperti yang ditawarkan di tempat lain. Malah lebih mirip dengan nasi uduk Betawi yang di jual pada pagi hari. Dengan beragam menu lauk pauk yang tersedia seperti ayam goreng, telur dadar, tempe oreg, dan telur pedas. Ada juga variasi masakan seperti bihun kecap dan juga semur jengkol. Tidak ketinggalan juga gorengan berupa tempe dan bakwan menemani santapan nasi uduk. Buka sejak sore hari sampai dengan subuh jam 4. Dikawasan ini semakin malam akan semakin ramai pengunjung yang datang. Selain harganya yang relatif murah dari Rp 6.000 sampai dengan Rp 10.000, tergantung lauk yang dipesan, para pedagang yang rata-rata perempuan muda memakai kostum celana pendek menjadi daya tarik tersendiri. Banyak orang yang menghabiskan malam untuk begadang menyelesaikan pekerjaan atau sekedar kumpul-kumpul menyempatkan datang kesini dilarut malam untuk mengisi perut yang kosong. [FB.01]




PERGURUAN PENCAK SILAT BANDRONG BANTEN : Dari kecintaan budaya leluhur sampai penopang kehidupan. (bagian pertama dari dua tulisan)

Wong Banten Kudu kasengsem ngagurat tapak leluhur Banten. Aje sampe udan guru banjir ilmu tapi sing salah dadi kaprah sing bener ore lumrah. Wong Banten sing inget yen bodo kudu weruh kapan pinter aje keblinger.

         Tulisan diatas adalah himpunan dari tulisan babad Banten yang dihimpun dari cerita rakyat yang berkembang secara turun temurun yang menunjukkan semangat untuk tetap melestarikan budaya leluhur. Mendorong masyarakat Banten untuk mengejar ilmu setinggi-tingginya tapi tetap dengan landasan keimanan dan hati  nurani supaya ketika menjadi pintar tidak menindas yang lemah dan menghalalkan segala cara dengan kepintarannya. Dengan semangat yang disarikan tulisan babad diatas itu pula Perguruan Pencak Silat Bandrong mencanangkan “Deklarasi Perguruan Pencak Silat Bandrong” di Pulokali Bojonegara, Serang Barat, tanah kelahiran dan tempat berkembang perguruan silat tersebut sampai saat ini. Pencak Silat Bandrong adalah seni beladiri tertua asli Banten bersamaan dengan Pencak Silat Terumbu yang diturunkan oleh Ki Beji yang berasal dari salah satu lereng Gunung Santri, Bojonegara (Kabupaten Serang, Banten). Keberadaan Pencak Silat Bandrong ini disinyalir sejak sebelum berdirinya Kerajaan Banten (1525 M).

Sejarah Pencak Silat Bandrong
Alkisah pada masa sebelum Kesultanan Banten, di salah satu lereng Gunung Santri diujung Kali Capit (sekarang kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang) telah menetap seorang sesepuh yang bernama Ki Beji alias Syekh Abdul Khofi yang bernama asli Ki Agus Jo. Ki Beji di tempat tersebut mengajarkan agama Islam kepada santri dan murid-muridnya. Beliau juga mengajarkan jurus-jurus silat di tempat beliau bermukim yaitu Gunung Bongkok, Sumurpitu. Diantara murid beliau dua orang murid utamanya adalah Ki Sarap (Ki Asyraf) dan Ki Ragil yang berasal dari kampung Gudang Batu Waringin Kurung.
Pada suatu hari Ki Beji berjalan-jalan menyusuri pesisir sampai dengan Karanghantu untuk mencari ikan. Di suatu tempat Ki Beji secara tidak sengaja melihat seorang puteri yang sedang mandi diantara terumbu karang di Karanghantu, dan pakaian puteri tersebut tersampir dibebatuan karang. Dalam kebimbangannya Ki Beji pun mengambil pakaian sang puteri tersebut. Dan ternyata wanita tersebut adalah puteri dari negeri bangsa jin, yang tidak dapat kembali ke alamnya dikarenakan pakaiannya telah diambil oleh Ki Beji. Ahirnya dalam kesepakatan mereka berdua, Ki Beji akan mengembalikan pakaian apabila sang puteri bersedia menikah dengannya. Ahirnya Ki Beji menikah dengan puteri jin yang diberi nama Siti Chodijah dan menetap di suatu kampung yang sekarang ini dikenal sebagai Kampung Terumbu (Kecamatan Kasemen, Kota Serang). Dari perkawinannya tersebut Ki Beji dikaruniai tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan, yaitu Tanjung Anom (anak pertama), Tanjung Rasa (anak kedua), dan anak ketiga Siti Badariyah atau Nyi Melati. Anak yang ketiga inilah yang dipersunting Sultan Hasanudin menjadi istrinya dikemudian hari. Di kampung terumbu inilah ahirnya Ki Beji menghabiskan hidupnya sambil mengajarkan ilmu silat Bandrong. Sebelum ajalnya beliau berpesan agar tempat asal beliau yaitu di lereng Gunung Santri di ujung Kali Capit untuk diberi nama Kampung Beji. Jadi pencak silat yang dikembangkan di Terumbu dan Beji (daerah sekitar Bojonegara) berasal dari satu guru yaitu Ki Beji.
                Perkembangan silat Bandrong di daerah Bojonegara dilakukan oleh dua orang kakak beradik yaitu Ki Sarap (Ki Asyraf) dan Ki Ragil. Dikisahkan pada saat kesultanan Banten sudah berdiri dengan sultannya Maulana Hasanudin, terjadi perselisihan antara senopati kerajaan yang bernama Ki Semar dengan Ki Sarap. Bentrokan fisik tidak dapat dihindari dari perselisihan ini. Di satu tempat antara Balagendong dan Kampung Kemuning, keduanya mengadu ketangkasan dan kesaktian ilmu silatnya. Dikarenakan mereka berdua sama – sama kuat, tangkas dan sakti kanuragan, perkelahian itu berlangsung sejak sebelum dzuhur sampai sore menjelang magrib. Ki Sarap telah mengeluarkan seluruh kemampuan silat Bandrong, semua jurus, kelit, seliwa kurung, lima pukul, sepak kombinasi, sodok dan seribu satu langkah telah dikeluarkannya. Tapi Ki Semar juga sama tangguhnya. Pada ahirnya pertarungan dapat disudahi oleh Ki Sarap dengan berhasil memenggal kepala Ki Semar dengan menggunakan golok pemberian Ki Ragil kakaknya. 
Peristiwa terbunuhnya Ki Semar oleh Ki Sarap membuat marah Sultan Hasanudin. Ahirnya Ki Sarap pun ditangkap pihak kerajaan dan dijatuhkan hukuman mati di tiang gantungan. Tapi ahirnya atas usulan sang permaisuri dengan pertimbangan bahwa pertarungan itu adalah karena membela diri, bukan semata-mata karena pembunuhan. Dan juga dengan pertimbangan kerajaan membutuhkan orang-orang gagah berani, kuat dan berilmu silat tinggi, ahirnya Ki Sarap bebas dari semua hukuman dengan lolos dari ujian yang diberikan oleh  Sultan Hasanudin terlebih dahulu. Dengan kesaktian dan ketinggian ilmunya tersebut Ki Sarap menggantikan posisi Ki Semar sebagai seorang senopati. Kemudian Ki Sarap diberi gelar kehormatan yaitu ” SENOPATI NURBAYA ”.
Senopati Nurbaya yang kemudian dikenal Ki Urbaya menjalankan tugas utamanya untuk mengamankan wilayah laut jawa terutama Teluk Banten dan pelabuhan Karanghantu. Beliau bermarkas di ” BOJO – NAGARA ” untuk menghadapi para bajak laut yang mereka sebut BAJAG – NAGARA, para bajak laut itu bermarkas di Tanjung. Karena tugasnya selalu menjaga laut, akhirnya nama Ki Sarap lebih populer dengan gelarnya : ”KI JAGABAYA” atau ”KI JAGA LAUT”. Saat usianya menjelang senja, Ki Patih Nurbaya menyadari tentang pentingnya kaderisasi atau generasi penerus. Beliau berniat menurunkan ilmunya terutama ketangkasan khusus yaitu ilmu beladiri ” Pencak Silat Banten” yang disebutnya ” Bandrong” , ilmu itu secara khusus diturunkan kepada putra Sultan Maulana Hasanudin, selanjutnya para punggawa dan prajurit serta murid – muridnya yang berada di Pulokali dan Gudang batu Waringin Kurung.
Selanjutnya pendidikan ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di Pulokali dan dibina langsung oleh kedua kakak beradik Ki Sarap dan Ki Ragil. Disanalah mereka berdua menghabiskan masa tuanya, kemudian setelah dipangil menghadap Yang Maha Kuasa, mereka berdua dimakamkan di pemakaman umum di daerah Kahal wilayah Kecamatan Bojonegara. Hingga sekarang tempat itu dikenal dengan sebutan ” MAKAM KI KAHAL” dan alhamdulillah sampai sekarang banyak masyarakat yang datang mengziarahinya terutama para pesilat Bandrong yang saat ini sudah menyebar di lima propinsi di Indonesia.

Asal Usul nama Silat Bandrong.
Mengingat kesetiaan masyarakat di kawasan Gunung Santri, Gudang Batu, dan Pulokali terhadap Kesultanan Banten, maka diresmikanlah Bojonegara artinya Bojone Negara ( istri negara ). Sedangkan silat asli Banten diberi nama BANDRONG, diambil dari nama jenis ikan terbang yang sangat gesit dan dapat melompat tinggi, jauh, atau dapat menyerang keras dengan moncongnya yang sangat panjang dan bergerigi tajam sekali, sehingga ia merupakan ikan yang sangat berbahaya, sekali serang dapat membinasakan musuhnya. Ki Patih Jaga Laut atau patih yang selalu melanglang buana menjaga laut, sangat menyukai dan sering memperhatikan ikan tangkas gesit ini dan juga jangkauan lompatan jarak jauhnya dan hal itu benar – benar mempesonanya. Sehingga akhirnya beliau mengambil nama ikan itu untuk memberi nama ilmu ketangkasan beladiri yang dimilikinya dengan nama ” PENCAK SILAT BANDRONG” karena tangkas dan gesit serta berbahaya seperti ikan Bandrong.

Perkembangan Pencak Silat Bandrong dari Masa ke Masa.
Sekitar tahun 1920 – 1940 M, pada saat Bandrong dipimpin oleh Guru Besar Ki Marip, datang seorang tokoh persilatan Betawi dari Cempaka Putih Jakarta ke pesisir Pulokali Bojonegara, yang bernama Hilmi, yang populer disebut Bang Imi. Kedatangannya untuk bersilaturahmi dan ingin menambah wawasan dan pengetahuan di bidang persilatan Banten. Bang Imi adalah pesilat yang menguasai silat Kwitang Betawi. Dalam perkenalannya Ki Marip dan Bang Imi bertukar jurus dalam sebuah pertarungan silat. Dan hanya dalam beberapa langkah Bang Imi dapat dijatuhkan oleh Ki Marip. Dari peristiwa inilah ahirnya Ki Marip dan Bang Imi menjalin persahabatan erat yang pada masa mendatang mempengaruhi aliran Bandrong dengan variasi dan pendalaman jurusnya karena ada unsur silat Kwitang Betawi yang menambah wacana seni yang berbeda. Masuknya unsur-unsur dari aliran silat lain seperti Cimande, Beksi, Kung Fu, Merpati Putih, dll juga menambah kekayaan jurus dan gerak dari aliran Bandrong.
                Dari kedua guru besar itu perguruan silat Bandrong berkembang di seputar Bojoneagara, Cilegon, dan Lampung. Terdapat sekitar 30 padepokan silat Bandrong yang tersebar di ketiga daerah tersebut. Masing-masing padepokan mempunyai nama yang berbeda satu dengan yang lain. Tapi tetap mereka berasal dari aliran yang sama yaitu silat Bandrong. Sebut saja beberapa nama seperti Bandrong Sapu Jagat, Bandrong Banteng Malang, Bandrong Jalak Emas, dll. Semua perguruan memakai nama Bandrong didepan nama padepokannya karena mereka berasal dari aliran yang sama. Hanya penambahan gerak dan variasi dari unsur silat betawi dan aliran silat lain membedakan satu padepokan dengan padepokan yang lain.
                Murid dan anggota Silat Bandrong tersebar di berbagai daerah tapi tidak terorganisir dengan baik. Hal ini menimbulkan keprihatinan dari para sesepuh dan keluarga besar Bandrong. Atraksi dan seni Bandrong dikenal luas sampai manca negara tapi tetap bagaikan organisasi tanpa bentuk, terkenal dan populer tapi tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Menyadari akan hal ini dan didorong oleh semangat untuk mengangkat jati diri dan kiprah Perguruan Pencak Silat Bandrong, beberapa tokoh persilatan Bandrong pada tahun 2001 mengadakan musyawarah secara maraton yang menghasilkan suatu kesepakatan dan kebulatan tekad “Perguruan Pencak Silat Bandrong harus bangkit kembali.”

Deklarasi Perguruan Silat Bandrong
Dalam rangka menggali dan melestarikan budaya leluhur Banten, Pencak Silat Bandrong melakukan upaya-upaya pelestarian melalui kegiatan reorganisasi dan pemberdayaan kader-kader Perguruan Pencak Silat Bandrong secara modern dan profesional. Sehingga seni beladiri Bandrong dapat terus mentransformasikan diri dalam dinamika perkembangan jaman. Dan senantiasa memegang teguh amanat leluhur tanpa harus kehilangan jatidiri sebagai pendekar Bandrong. Berkenaan dengan hal tersebut maka diadakan “Deklarasi Perguruan Pencak Silat Bandrong” dalam rangka Ngagurat Tapak Leluhur Banten agar diketahui dan dihayati oleh generasi penerus sebagai simbol jatidiri serta pengembangan moral dan sebagai sarana olahraga, belanegara, dan amar maruf nahi munkar.
                Berdasar dari kegiatan ini Pencak Silat Bandrong ngagurat tapak leluhur sekaligus mempersatukan diri dalam suatu wadah organisasi yang bersifat independen dan merupakan organisasi kader. Setelah berabad-abad dilupakan orang yang bisa dibilang hidup enggan mati tak mau, para tokoh mencanangkan unifikasi untuk bangkit, berdiri dan bergerak. Dengan dikawal oleh tim sebelas yang terdiri dari sebelas orang tokoh-tokoh Bandrong yang tergabung dalam tim formatur, ahirnya pada bulan Januari 2001 terbentuklah Dewan Pimpinan Pusat Perguruan Pencak Silat Bandrong Periode Deklarasi dan Kebangkitan secara lengkap dengan susunan pengurusnya. Bertempat di Pulokali Bojonegara menetapkan Drs KH Mansyur Muhyidin sebagai Ketua Umum dan A Rafei Sanid sebagai Sekertaris Umum untuk periode 2001 – 2005.

Sinergi kecintaan Seni Budaya dan Pemberdayaan Ekonomi
Selain berkonsentrasi terhadap perkembangan dan kelestarian seni dan budaya pencak silat, Bandrong merupakan suatu wadah pemberdayaan anggotanya dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Dinamika kehidupan global yang semakin cepat, luas, dan kompleks, yang dengan ditandai pesatnya ilmu pengetahuan dan tehnologi. Pada sebagian besar masyarakat, dinamika globalisasi tersebut menjadi faktor utama yang menyebabkan marginalisasi mereka terhadap lingkungan baik lokal maupun internasional. Untuk menghadapi tantangan tersebut diperlukan langkah-langkah strategis untuk memberdayakan masyarakat disemua bidang kehidupan secara holistik integral. Diperlukan program-program pokok yang mampu memberikan multiplier effect bagi meningkatnya kualitas sumber daya manusia.
                Untuk itu Bandrong sebagai organisasi yang menaungi anggotanya melakukan langkah-langkah strategis dengan pendekatan yang tepat. Selain program kerja yang menitik beratkan kepada aspek seni budaya dan kaderisasi, keterampilan ekonomi merupakan salah satu program kerja yang disusun secara konkret untuk menopang kesejahteraan anggotanya. Untuk itu Perguruan Pencak Silat Bandrong membentuk badan-badan otonom atau kelembagaan seperti Yayasan Kebangkitan Bandrong dan Koperasi Bandrong Mandiri. Suatu semangat wirausaha yang dikembangkan dilingkungan Keluarga Besar Perguruan Pencak Silat Bandrong untuk menghilangkan kesan bahwa umumnya para pesilat hidupnya terlantar dan miskin, yang hanya bisa diadu-adu saja. Banyak orang merasa pesimis dengan semangat yang dicanangkan Perguruan Pencak Silat Bandrong dalam menjadikan organisasinya sebagai wadah usaha anggotanya. Tapi dengan semangat modernisasi dan kesungguhan, diharapkan Perguruan Pencak Silat Bandrong Banten dapat menjadi wadah yang positif bagi anggotanya karena “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau mengubah nasibnya sendiri”.

Penutup
Suatu keteladanan luar biasa yang dilakukan oleh Perguruan Pencak Silat Bandrong Banten dalam membangkitkan lagi budaya dan seni pencak silat asli Banten. selain ngagurat tapak leluhur, yang berarti menggali dan melestarikan kebudayaan dari para leluhur, juga mengaplikasikan  Wong Banten sing niget yen bodo kudu weruh kapan pinter aje keblinger. Sinergi antara kecintaan terhadap seni dan budaya juga diberikan wadah kegiatan ekonomi yang jadi penopang kehidupan bagi para anggota Perguruan Pencak Silat Bandrong. Semoga apa yang telah dilakukan Perguruan Pencak Silat Bandrong menstimulus perguruan pencak silat lain untuk membangkitkan lagi seni dan budaya pencak silat asli Banten yang bersinergi dengan kegiatan ekonomi dan sosial. Jangan sampai stigma yang berkembang dimasyarakat bahwa persilatan Banten dengan Kependekarannya hanya hidup dan terlihat pada saat Kampanye Pemilukada saja. Dan semoga kesolidan Perguruan Pencak Silat Bandrong tidak terpecah belah antara para sesepuh, padepokan, atau pengurus daerah, seiring dengan perbedaan dukungan terhadap partai politik tertentu atau calon pemimpin daerah tertentu yang sedang giat mencari dukungan untuk pencalonan dirinya. (Faisal Bantani).

Sumber Tulisan:
  • Disarikan dari Pencak Silat Bandrong “ Ngagurat Tapak Leluhur Banten”
  • Diskusi dengan Ketua Umum Deklarasi Perguruan Pencak Silat Bandrong Drs KH Mansyur Muhyidin, Senin 17 Januari 2011.